X

Hanya Ibu Biasa ...

Posted on 9:25 AM Under 0 comments



Hanya Ibu Biasa
by: Suci Ummi Adam

Namaku Agus, aku tinggal di salah satu sudut kota Jakarta. Aku berumur sembilan tahun. Aku tinggal bersama ayah dan ibuku di sebuah rumah kontrakan yang terletak tak jauh dari kali Ciliwung.

Setiap pagi, aku selalu diantar ibuku ke sekolah, karena tempat kerja ibuku searah dengan sekolahku.

Oya, ibuku, hanya ibu biasa. Pekerjaannya sederhana saja. Setiap hari ibuku menjadi buruh cuci gosok di dua rumah. Kata ibuku sih, rumah tempat ibu ku bekerja itu besar-besar, ada ruang tamu, ruang keluarga, dapur bersih dan dapur kotor, belum lagi kamar tidur yang jumlahnya lebih dari tiga. Waahhh besar sekali. Kata ibu lagi, rumah kontrakan kami, besarnya seperti kamar tidur utama tempat ibu bekerja.


Setiap pagi, ibu ku selalu bangun sebelum azdan subuh memanggil. Lalu ibu melaksanakan shalat tahajud, setelah itu membaca Alquran hingga waktu subuh tiba. Setelah shalat subuh, ibu mulai menyiapkan makanan. Hebatnya, ibu bisa memasak sambil mencuci baju loh. Ketika aku bilang, bahwa ibu hebat, bisa mengerjakan dua pekerjaan sekaligus, ibuku tersenyum dan berkata ,

”Ah, ibu hanya ibu biasa nak, ibu-ibu lain juga bisa seperti ini.”

Setelah memasak dan mencuci, kemudian ibu menyiapkan perbekalan sekolahku. Aku memang tidak pernah diberi ibu uang jajan, karena memang ibu dan ayah tidak punya uang berlebihan. Kalaupun ada, uang itu harus ditabung untuk biaya sekolahku hingga perguruan tinggi, begitu selalu kata ayah dan ibuku.

Tapi, hebatnya lagi, ibu selalu bisa membuat makanan yang lezat untuk bekal sekolahku. Mulai dari mi goreng sosis, nasi goreng bungkus telur, sosis bungkus mi, pizza (sssttt, kata ibu sih ini yang namanya pizza, pizza ala ibu, terbuat dari mi yang digoreng dengan telur), kentang goreng ala ibu (yang ini rasanya ga kalah dengan kentang goreng di restoran cepat saji), dan masih banyak lagi. Ide memasak ibu tidak pernah habis. Tidak heran kalau aku juga ga terlalu suka jajan.
Dan, ketika aku bilang ibu hebat, lagi-lagi ibu berkata ,

”Ah, ibu hanya ibu biasa kok nak, ibu-ibu lain juga pasti seperti ibu…”

Setelah semua selesai, kamipun berangkat. Ayah berangkat dengan menggunakan motor kreditan, menuju tempatnya bekerja. Aku dan ibu, berjalan kaki menuju sekolahku. Jarak antara rumah dan sekolahku, kata ayah kurang lebih tiga kilometer, dan itu aku tempuh bersama ibuku dengan berjalan kaki. Pertama kali, memang terasa capek, tapi lama kelamaan aku mulai terbiasa. Bahkan kini, aku sangat menantikan saat berjalan kaki bersama ibu. Karena, selama kita berjalan, ibu selalu bercerita tentang kisah Rasulullah saw dan sahabat-sahabatnya. Mulai dari kebaikan-kebaikan Rasulullah saw, kegigihan Rasulullah saw dalam mempertahankan agama Islam, hingga kisah-kisah keajaiban-keajaiban alam semesta. Sungguh luar biasa. Mataku selalu berbinar-binar ketika mendengar cerita ibuku. Ketika aku tanyakan, dari mana ibu tahu tentang cerita-cerita itu, ibuku menjawab, dari salah satu rumah tempat ibu bekerja, disana terdapat perpustakaan mini, kata ibu koleksi buku-bukunya banyaaakk sekali. Dan ketika aku sampai di sekolah, pasti kukatakan, ibu hebat.

Namun, ibu selalu tersenyum, dan seperti biasa, ibu selalu menjawab ,”Ah, ibu hanya ibu biasa anakku sayang, ibu-ibu lain juga pasti seperti ibu…”

Dan, sebelum aku masuk ke gerbang sekolah, kami selalu berdoa sejenak. Ibu selalu mendoakan agar aku dimudahkan dalam memahami ilmu, menjadi anak yang shalih, menjadi anak yang menyayangi orang tua dan sesama, dan menjadi anak yang sangat mencintai Allah, Alquran dan Rasulullah saw. Setelah itu ibuku menciumku, dan aku pun mencium tangan ibu. Sebelum meninggalkan sekolahku, biasanya ibuku menuju musholla sekolah untuk melaksanakan shalat dhuha.

Ah, ibuku hanya ibu biasa, seperti juga ibu-ibu yang lainnya.

Saat bel sekolah jam dua belas siang, ibu sudah menungguku di musholla sekolah. Ibu selalu mengajakku untuk melaksanakan shalat dhuhur tepat waktu. Setelah shalat, kamipun pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Jika berangkat sekolah ibu selalu bercerita tentang kisah Rasulullah saw, maka pulang sekolah, saatnya kami bertukar cerita. Ibu menceritakan pekerjaannya, sedangkan aku bercerita tentang guru, pelajaran hari ini, dan tentu saja tentang teman-temanku. Hebatnya, saat aku bercerita ibu selalu mendengarkan dengan seksama. Ibu akan tertawa ketika cerita ku lucu, ibu akan tersenyum jika ceritaku sedih, dan ibu akan menggenggam tanganku jika aku mendapat nilai kurang pada ulangan hari itu. Ibu tidak pernah marah. Ibu selalu mendengarkan semua ceritaku dengan seksama.

Ibuku….. hanya ibu biasa….

Saat sampai di rumah, setelah aku mengganti pakaian, kami pun makan siang bersama. Kami tidak punya meja makan, jadi kami makan di lantai beralaskan karpet tipis pemberian majikan tempat ayahku bekerja. Kami makan di depan TV, tapi ibu tidak pernah mau menyetel TV, karena menurut ibu, acara TV saat siang, tidak ada yang bagus, kalau bukan sinetron, pasti gossip. Begitu selalu kata ibu. Maka, kami pun makan sambil mendengarkan kaset murotal. Dan hebatnya, terkadang ibu mengikuti bacaan di murotal. Ketika kutanya, ibu sudah hafal ya? Ibu tersenyum, mengangguk dan kemudian mengucap Alhamdulillah….

Ah, ibuku hebat….

Setelah makan, aku pun istrahat siang, kalau tidak membuka-buka pelajaran, aku akan tidur. Tapi, lebih sering, aku mengulang pelajaran dengan ibu. Ini aku kerjakan sambil menemani ibu yang sedang menyetrika pakaian kami. Jika ada soal-soal pelajaran yang susah, aku selalu bertanya pada ibu, dan hebatnya, ibu selalu bisa menjawab. Ketika aku tanya, kenapa ibu bisa menjawab semua soal-soal pelajaranku, ibu akan berkata ,

”Kan dulu juga ibu sekolah nak, nah, saat di kelas, ibu selalu memperhatikan apa yang diterangkan oleh guru, dan ibu juga rajin mengulang pelajaran, seperti yang kamu lakukan saat ini,” kata ibu sambil mencubit gemas hidungku.

“Wah kalau begitu, Agus juga akan sehebat ibu dong,” kataku sambil tersenyum manis untuk ibu……

Setelah shalat ashar, aku meminta ijin pada ibu untuk bermain dengan teman-temanku. Saat aku bermain, biasanya ibu akan membersihkan rumah. Menyapu halaman rumah kontrakan kami, membersihkan debu-debu, merapikan lemariku yang selalu acak-acakkan, menyiram pot-pot tanaman kesukaan ayah, menyikat kamar mandi, mengepel lantai rumah, dan masih banyak lagi. Jika ada sisa waktu, ibu akan mempergunakan untuk mengobrol dengan tetangga. Kata ibu, asal tidak ngerumpi ga pa pa, yang penting kita harus berlaku baik dan ramah pada tetangga.

Sebelum adzan maghrib berkumandang, aku akan pulang ke rumah dan membersihkan diri. Setelah itu, aku pergi ke masjid bersama ayahku, untuk shalat maghrib berjamaah.

Sampai di rumah, kami bertiga akan membaca Alquran secara bergantian. Walaupun bacaanku belum lancar, ibu dan ayah selalu memberi semangat, untuk terus membaca. Ini kami lakukan hingga menjelang adzan isya. Setelah melaksanakan shalat isya di masjid, kami pun makan malam. Saat ini juga sangat aku nantikan, karena saat makan, kami akan selalu bertukar cerita.

Setelah makan malam, ibu lalu mencuci piring-piring yang kotor dan membersihkan dapur. Aku mempersiapkan buku-buku untuk esok hari. Ayah, membaca Alquran di ruang depan. Biasanya aku tidur jam setengah sembilan malam. Sebelum tidur, ibu selalu mendongeng. Yang mengasyikkan, ibu mendongeng dengan ekspresi, alias tidak membaca buku. Jadi jika ibu mendongeng tentang kelinci atau kodok, ibu pun akan melompat. Jika ibu mendongeng sedang naik kuda, maka ibu pun akan bertingkah seperti orang naik kuda. Jika ibu bercerita tentang kesedihan, maka ibupun akan berpura-pura menangis sesegukan.

Ah, ibuku hebat…..

Tapi terkadang aku bingung terhadap ibuku, aku tidak pernah melihat ibu istirahat. Saat aku bangun pagi, ibu sudah bangun, saat aku hendak tidur, ibu belum juga tidur. Pernah aku bertanya pada ibu,

“Bu, ibu kok sepertinya ga pernah istirahat? Ibu selalu bekerja, apa ibu tidak pernah capek?”

“Agus sayang, kalau capek, ya, pasti capek, tapi ibu sangat menikmati apa yang ibu kerjakan. Ibu menikmati saat bercerita denganmu, bermain denganmu, mengerjakan pekerjaan rumah ataupun saat bekerja di rumah orang, ibu sangat menikmati hal itu nak, hingga capek badan, tidak pernah benar-benar ibu rasakan, karena ibu ikhlas…”

Dan aku pun akan pelan-pelan tertidur sambil melihat ibu yang sedang menjahit celanaku yang sobek, atau menjahit celana ayah yang kepanjangan, hingga menjahit gorden baru untuk rumah kami. Pelan-pelan mataku terpejam sambil menatap ibu yang tengah mengerjakan pekerjaan rumah sambil bibirnya tak pernah lepas dari lantunan ayat-ayat suci Allah……

Dalam mimpi aku berkata ,”Ibu hebat……”

Dan ibukupun akan menjawab sambil tersenyum

,”Ibu, hanyalah ibu biasa, apa yang ibu lakukan ini, juga dilakukan oleh ibu-ibu yang lainnya……”

Ya, ibuku memang hanya ibu biasa……..


About the author

Huy reader ,selamat datang di blog Hendra Share . Dan semoga isi dari artikel artikel ini bermanfaat untuk kalian :3 .


0 comments